Perang Harga Foto vs Perang Dunia

Sudah bukan rahasia umum lagi kalau dalam dunia bisnis fotografi perang harga sesama para fotografer lebih dasyat dari perang dunia, karena perang ini berdampak sangat dasyat untuk para fotografer. Ending dari perang harga ini adalah matinya impian untuk menjadi seorang fotografer profesional, matinya kreatifitas dan matinya perasaan hingga matinya mentalitas kita untuk bisa tumbuh dan berkembang menjadi pebisnis fotografi.

Saya berfikir perang harga hanya terjadi di Bekasi saja, setelah saya keliling di berbagai kota untuk mengisi kelas fotografi ternyata perang ini serentak seluruh Indonesia.. Cilakanya di kota kota kecil pun lebih dasyat seranganya ketimbang di kota besar di Indonesia. Mau sampai kapan ini berakhir… Semua kembali kepada dirikita sendiri..

Fotografer pernihakan berada dalam urutan ke 5 dalam dalam dunia pernikahan, urutan pertama adalah Gedung, catring, dekorasi, make up baru lah fotografer pernikahan. Padahal kita sebagai fotografer memerankan peran penting dalam mengabadikan moment pernikahan yang akan dikenang seumur hidup namun kita selalu berada di urutan terakhir dalam dunia pernikahan.

Kita sebagai seorang fotografer terkadang masih selalu berada di buntut orang orang make up atau pun vendor lainya, seharusnya kita dengan para vendor melakukan sebuah kemitraan ataupun win win solusion tanpa harus merusak harga foto kita. Hargailah profesi kita, kalau bukan kita yang menghargai profesi kita lalu siapa lagi…

Berlomba lomba lah dengan hasil karya dan kwalitas karya terbaik kita bukan berlomba lomba menjatuhkan harga orang lain. Jadilah fotografer yang memiliki integritas terhadap profesi ini bukan menjadi fotografer yang saling menjatuhkan sesama pengelut usaha fotografi.

Mulai lah merubah mind set anda jangan menghalalkan segala cara untuk mencapai deal yang mungkin tidak seberapa namun mengesampingkan kwalitas dan profesi diri anda sendiri.

Mari sama sama bangun industri fotografi Indonesia yang sehat tidak saling sikut sikutan, focus lah pada kwalitas karya anda bukan dari kwantitas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *